0XVOkzIOMuVO2ISulfVeSoRy4XR0Z5HcQhXOZ6RK

E. F. E. Douwes Dekker

Halo sobat nimu! Kali ini, kita akan membahas salah satu sejarah di Indonesia ini. Ya sedikit kembali ke masa lalu ya 😁 Sudah menjadi rahasia umum, sebelumnya Indonesia dijajah oleh beberapa negara, yang salah satunya Negara Belanda. Namun, ada loh seorang tokoh Belanda yang malah membantu Negara Indonesia. Yaitu, E. F. E. Douwes Dekker. Yak kali ini kita akan membahas mengenai tokoh tersebut. 👀


A. Sekilas Tentang Douwes Dekker

E. F. E. Douwes Dekker

Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker, atau yang lebih dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, merupakan salah satu seorang pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional Indonesia. Dia lahir di Pasuruan pada 9 Oktober 1879 dan meninggal di Bandung pada 28 Agustus 1950. Beliau merupakan seorang  Dia merupakan penulis yang kritis terhadap kebijakan pemerintahan Hindia Belanda. Dia juga merupakan salah satu dari Tiga Serangkai, bersama dengan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat.


B. Masa Muda

Pendidikan Douwes Dekker dimulai di kota Pasuruan, kemudian dilanjutkan ke HBS di Surabaya. Tidak lama kemudian, dia pindah ke Batavia dan bersekolah di sekolah elit yang bernama Gymnasium Koning Willem III School. Setelah lulus, beliau bekerja di perkebunan kopi yang bernama Soember Doeren di Malang, Jawa Timur. Dari sinilah, seorang Douwes Dekker melihat penderitaan rakyat dan perlakuan semena-mena oleh penjajah. Seringkali Douwes Dekker membela mereka sehingga tidak disukai rekan-rekan kerja, namun disukai pegawai-pegawai bawahannya. Karena konflik dengan manajernya, dia dipindahkan ke perkebunan tebu Padjarakan di Kraksaan. Sekali lagi, dia terlibat konflik dengan manajemen karena pembagian irigasi untuk tebu perkebnan dan padi petani. Akibatnya, dia dipecat.

Setelah dipecat, Douwes Dekker harus kehilangan ibunya sehingga dia depresi. Dia kemudian meninggalkan Hindia Belanda dan berpergian ke Afrika Selatan. Kemudian, dia berkenalan dengan sastrawan India yang membuat Douwes Dekker membuka pandangannya mengenai perlakuan semena-mena pemerintahan kolonial Belanda pada masa itu.


C. Wartawan Yang Kritis

Douwes Dekker memutuskan untuk kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1902. Kemudian dia bekerja sebagai seorang wartawan di koran bernama De Locomotief. Dia banyak menulis mengenai kasus kelaparan di wilayah Indramayu. Tulisannya berisi mengenai kritikan terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial Belanda.

Seri pertama artikel dimuat Februari 1908 di surat kabar Belanda Nieuwe Arnhemsche Courant setelah versi bahasa Jermannya dimuat di koran Jerman Das Freir Wort, “Het bankroet der ethische principes in Nederlandsch Oost-Indie” yang artinya “Kebangkrutan prinsip etis di Hindia Belanda” yang kemudian dipindah di Bataviaasche Nieuwsblad. Tujuh bulan kemudian seri tulisan berikutnya muncul di surat kabar yang sama, “Hoe kan Holland het spoeigst zijn koliniën verliezen?” yang artinya “Bagaimana caranya Belanda dapat segera kehilangan koloni-koloninya?”. Tulisan-tulisan ini membuatnya mulai masuk dalam radar intelijen penguasa.


D. Sebagai Aktivis

Rumah Douwes Dekker, yang terletak di dekat Stovia menjadi tempat berkumpul para perintis gerakan kebangkitan nasional Indonesia, seperti Sutomo dan Cipto Mangunkusumo. Budi Utomo, merupakan organisasi yang diklaim sebagai organisasi nasional pertama. Dia bahkan menghadiri kongres pertama Budi Utomo di Yogyakarta.

Karena menganggap Budi Utomo terbatas pada masalah kebudayaan (Jawa), Douwes Dekker tidak banyak terlibat di dalamnya. Kemudian, dia menyampaikan gagasan suatu “Indië” (Hindia) baru yang dipimpin oleh warganya sendiri. Namun, hanya sebagian kecil saja yang menerimanya dari Indische Bond dan Insulinde.

Karena Indische Bond dan Insulinde tidak bersatu, pada tahun 1912 bersama-sama dengan Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan partai berhaluan nasional inklusif bernama Indische Partic (Partai Hindia). Anggota berjumlah sekitar 5000 orang dalam waktu yang singkat. Partai ini sangat populer di kalangan orang Indische Bond dan Insulinde, serta diterima baik oleh kelompok Tionghoa dan pribumi. Partai ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintahan kolonial Hindia Belanda setahun kemudian (1913) karena dianggap menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.


E. Pembuangan di Eropa

Ketika di Eropa, Douwes Dekker mengambil program doktor di  Universitas Zürich, Swiss, dalam bidang ekonomi. Dia bersama tinggal keluarganya serta meraih gelar doktor dengan nilai “serendah-rendahnya”, menurut istilah salah satu pengujinya. Karena disana dia terlibat konspirasi dengan kaum revoluioner India, dia ditangkap di Hong Kong dan diadili, kemudian ditahan di Singapura (1918), kemudian dia pulang ke Hindia Belanda setelah dipenjara (1920).


F. Pembuangan di Suriname

Douwes Dekker ditangkap dan dibuang ke Suriname pada tahun 1941 melalui Belanda. Di sana dia ditempatkan di suatu kamp jauh di pedalaman Sungai Suriname yang bernama Jodensavanne.

Douwes Dekker hidup tertekan karena dia merindukan keluarganya serta kehilangan kemampuan melihat. Surat-menyurat dilakukannya melalui Palang Merah Internasional dan harus melalui sensor.

Ketika kabar perang di Indonesia telah berakhir, para buangan di sana tidak segera dibebaskan. Pertengahan tahun 1946 orang buangan dikirim ke Belanda termasuk Douwes Dekker. Dia bertemu dengan Nelly Albertina Gertzema nee Kruymel yang merupakan seorang perawat. Dia menemani Douwes Dekker menuju Indonesia dan harus mengganti nama untuk menghindari petugas intelijen di Pelabuhan Tanjung Priok. Kemudian, mereka berhasil tiba di Yogyakarta.


G. Perjuangan Masa Revolusi Kemerdekaan

Tidak lama setelah kembali, dia segera terlibat dalam posisi-posisi penting di Republik Indonesia. Awalnya, dia menjabat sebagai menteri negara tanpa portofolio dalam Kabinet Sjahrir III, yang hanya bekerja dalam waktu hampir 9 bulan. Kemudian, dia menjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda, konsultan dalam komite bidang keuangan dan ekonomi di delegasi tersebut, anggota DPA, pengajar di Akademi Ilmu Politik, dan sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan. Beberapa pejabat Belanda menganggap Douwes Dekker sebagai “komunis”.

Pada periode ini Douwes Dekker tinggal seruma dengan Sukarno dan menempati salah satu rumah di Kaliurang. Namun, pada tanggal 21 Desember 1948 dia diciduk tentara Belanda di rumah yang berada di Kaliurang. Dia dibawa ke Jakarta untuk diinterogasi kembali.


I. Akhir Hayat

Tak lama kemudian, Douwes Dekker dibebaskan karena kondisi fisiknya yang sudah payah dan berjanji tidak akan melibatkan diri dalam politik. Atas permintaannya, dia dibawa ke Bandung atas permintaannya dan menempati rumah lama di Lembangweg.

Pada tanggal 28 Agustus 1950, Douwes Dekker wafat dini hari dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung.


J. Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional

Nama “Setiabudi” diabadikan sebagai nama jalan di Bandung dan kemudian nama tempat di wilayah Jakarta. Dia juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.


Wah ternyata tidak semua orang Belanda memberikan hal buruk kepada negara kita, ya 😃 Dari tokoh diatas, ternyata perjuangannya sangat besar dan berperan besar juga bagi NKRI. Yak sekian dulu dan sampai bertemu di post selanjutnya! 😁
Nimba Ilmu
Tempat Belajar Bersama Paling Asyik

Postingan Terkait

Posting Komentar