0XVOkzIOMuVO2ISulfVeSoRy4XR0Z5HcQhXOZ6RK

E. F. E. Douwes Dekker: Tokoh ‘Asing’ yang Membela Indonesia

 

Halo sobat nimu! Gimana nih kabarnya selama di rumah aja? Udah pada sekoah luring belum? Aku sih belum hehe. Eits.. tapi tenang aja, gak usah sedih, karena kali ini aku bakal nyeritain mengenai seorang tokoh yang jasanya besar banget buat pergerakan nasional Indonesia. Mungkin dengan ngebaca artikel ini kalian jadi termotivasi buat gak rebahan mulu dan siap untuk mendedikasikan diri buat kemajuan bangsa. Nah, siapa dia? Yup… Ernest Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi. Pembahasan ini pernah ditulis juga sama salah satu teman aku disini.

 Kalau denger Douwes Dekker kadang ingatnya sama Eduard Douwes Dekker atau Multatuli dengan karyanya yang paling terkenal Max Havelaar yang berisi cerita kekejaman Belanda terhadap pribumi. Ternyata, kedua tokoh ini memiliki hubungan darah lho sobat nimu. Jadi, Ernest atau aku manggilnya Nes aja ya, itu merupakan cucu dari saudara Eduard Douwes Dekker yaitu Jan Douwes Dekker. Wah… jadi darah aktivis udah ada pada diri dia ya.. Karya-karya dari Eduard Douwes Dekker juga banyak menginspirasi Nes.

Sekedar informasi, pada zaman tersebut keadaan sosial di Indonesia, Hindia Belanda kala itu, masyarakat dibagi menjadi beberapa kelas. Golongan Indo adalah “golongan tanggung” pada masa kolonial. Mereka dianggap lebih rendah dibanding orang Belanda atau Eropa tulen. Tapi mereka ini tidak bisa dianggap kaum terendah, di bawah golongan tersebut ada warga kelas tiga seperti pribumi yang disebut inlander.

Nes lahir dari ibu dengan darah Jawa. Walau demikian, Nes ini masih digolongan ke dalam golongan Eropa karena dia merupakan keturunan Douwes Dekker. Sehingga Nes juga sempat mencicipi pendidikan di sekolah elite Gymnasium Koning Willem III Scholl (HBS KW III) di Salemba. Dengan segala kemudahan yang ia dapatkan dari menjadi seorang golongan ‘Eropa’, Ernest tetap memilih dalam jalur perjuangan. Dia benci adanya penindasan terhadap kaum pribumi yang dilakukan oleh Belanda. Inilah yang menjadi semangat perjuangan Ernest untuk memerdakan bangsa Indonesia.

Untuj lebih mengenal Ernest, sosok yang sangat inspiratif ini, melalui artikel ini aku akan menceritakan tokoh dibalik perjuangan nasional Indonesia. Jadi pastiin kalian baca artikel ini sampai habis ya! Terlepas dari itu, aku tidak mungkin bisa merangkum seluruh kehidupan Nes hanya dalam satu artikel. Jadi harap maklum kalau ada kisah perjuangan Nes yang terlewat. Oke deh, kita langsung aja mulai ceritanya…

adweek.com


A. Kehidupan Pribadi

Okey, kita mulai dari kehidupan pribadi Nes. Nes lahir di PasuruanJawa Timur, pada tanggal 8 Oktober 1879. Ayah Nes bernama Auguste Henri Eduard Douwes Dekker, ia adalah seorang agen di bank kelas kakap Nederlandsch Indisch Escomptobank. Sementara itu, ibu Nes, Louisa Neumann, merupakan seorang Indo keturunan Jawa-Jerman.

minews.id
Bisa dibilang, hidup Nes memang penuh petualangan. Sedari kecil, dia terbiasa hidup berpindah-pindah. Dia tampaknya bangga terlahir di Pulau Jawa. Pekerjaannya pun gonta-ganti. Seperti dicatat Margono (hlm. 22), setelah cabut dari pekerjaannya di Perkebunan Soember Doeren, di sekitar Gunung Semeru, Nes pindah ke Pabrik Gula Pajarahan di Kraksan (Pasuruan) sebagai laboran. Setelah itu, dia berlayar ke Afrika Selatan untuk jadi sukarelawan Belanda dalam Perang Boer. Nes sempat jadi tawanan pemerintah kolonial Inggris di Pretoria (Afrika Selatan), lalu Colombo (Srilanka). Wah berat gak tuh wkwk. Jadi hidup Nes itu jangan dibayangin enak ya, hidup di negara jajahan dengan kelas sosial yang menguntungkannya.

Pengalaman hidup macam inilah yang ngebentuk Nes tak merasa berat saat dibuang ke Belanda. Juga belakangan (jelang menyerahnya Hindia Belanda kepada Jepang) ketika jadi orang buangan di Suriname. Pengalaman sebagai tawanan perang Inggris juga membuatnya terbiasa sebagai tahanan politik pemerintah kolonial.

Tak hanya soal tempat tinggal dan pekerjaan, dalam urusan pernikahan Nes juga kerap berpindah dari pelukan wanita satu ke wanita yang lain. Wow :v. Douwes Dekker menikah dengan Clara Charlotte Deije (1885-1968), anak dokter campuran Jerman-Belanda pada tahun 1903, dan mendapat lima anak, namun dua di antaranya meninggal sewaktu bayi (keduanya laki-laki). Yang bertahan hidup semuanya perempuan. Perkawinan ini kandas pada tahun 1919 dan keduanya bercerai.

Kemudian Douwes Dekker menikah lagi dengan Johanna Petronella Mossel (1905-1978), seorang Indo keturunan Yahudi, pada tahun 1927. Johanna adalah guru yang banyak membantu kegiatan kesekretariatan Ksatrian Instituut, sekolah yang didirikan Douwes Dekker. Dari perkawinan ini mereka tidak dikaruniai anak. Di saat Douwes Dekker dibuang ke Suriname pada tahun 1941 pasangan ini harus berpisah, dan di kala itu kemudian Johanna menikah dengan Djafar Kartodiredjo, yang juga merupakan seorang Indo (sebelumnya dikenal sebagai Arthur Kolmus), tanpa perceraian resmi terlebih dahulu. Tidak jelas apakah Douwes Dekker mengetahui pernikahan ini karena ia selama dalam pengasingan tetap berkirim surat namun tidak dibalas.

Sewaktu Douwes Dekker "kabur" dari Suriname dan menetap sebentar di Belanda (1946), ia menjadi dekat dengan perawat yang mengasuhnya, Nelly Alberta Geertzema née Kruymel, seorang Indo yang berstatus janda beranak satu. Nelly kemudian menemani Douwes Dekker yang menggunakan nama samaran pulang ke Indonesia agar tidak ditangkap intelijen Belanda. Mengetahui bahwa Johanna telah menikah dengan Djafar, Douwes Dekker tidak lama kemudian menikahi Nelly, pada tahun 1947. Douwes Dekker kemudian menggunakan nama Danoedirdja Setiabuddhi dan Nelly menggunakan nama Haroemi Wanasita, nama-nama yang diusulkan oleh Sukarno. Sepeninggal Douwes Dekker, Haroemi menikah dengan Wayne E. Evans pada tahun 1964 dan kini tinggal di Amerika Serikat.

Walaupun mencintai anak-anaknya, Douwes Dekker tampaknya terlalu berfokus pada perjuangan idealismenya sehingga perhatian pada keluarga agak kurang dalam. Ia pernah berkata kepada kakak perempuannya, Adelin, kalau yang ia perjuangkan adalah untuk memberi masa depan yang baik kepada anak-anaknya di Hindia kelak yang merdeka. Pada kenyataannya, semua anaknya meninggalkan Indonesia menuju ke Belanda ketika Jepang masuk. Demikian pula semua saudaranya, tidak ada yang memilih menjadi warga negara Indonesia. Sedih sih sebenarnya, tapi aku juga gak tahu apa yang dirasakan Nes. Melihat bahwa ternyata anak dan saudara-saudaranya justru tidak memilih tinggal di Indonesia yang merupakan perjuangan Nes.


B. Riwayat Hidup

merdeka.com (dr. Tcipto Mangunkusumo, Suwardi Suryoningrat, Ernest Douwest Dekker – Tiga Serangkai)

1. Pendidikan dan pekerjaan awal Danudirja Setiabudi

Seperti yang udah aku certain di bagian kehidupan pribadinya. Ayahnya yang berprofesi sebagai pialang bursa efek serta agen bank membuat kehidupan dia dan keluarganya sering berpindah-pindah tempat. Hal ini juga berimbas pada pendidikan yang diperolehnya.

Awalnya ia bersekolah di Europeesche Lagare School (ELS) Batavia, setingkat sekolah dasar khusus untuk masyarakat Eropa dan keturuan eropa di Hindia Belanda. Saat masih bersekolah di ELS inilah dirinya mengenal sosok Multatuli melalui karyanya yaitu Max Havelaar dan menginspirasi dirinya untuk menjadi seorang penulis di kemudian hari.

Pada tahun 1892, keluarga Nes berpindah ke Surabaya dan meneruskan pendidikannya di Hogere Burger School (HBS) bersama kakaknya Julius. Ia dan kakaknya terdaftar sebagai siswa kelas pertama dengan nomer induk 574 dan 573. Setahun kemudian ia dan keluarganya kembali ke Batavia pada tahun 1893. Nes meneruskan pendidikannya di HBS Gymnasium Koning Willem III, sekolah yang berada di kawasan Gambir, Jakarta Pusat. Ini merupakan sekolah elite waktu itu.

Selama menempuh pendidikan di Gymnasium, ia mulai mengasah bakatnya sebagai seorang penulis. Saat usianya yang baru 14 tahun, ia mampu menulis buku Gedenkboek van Lombok. Setelah lulus dari HBS pada tahun 1898, ia tidak langsung melanjutkan pendidikannya di tingkat universitas dikarenakan pada waktu itu di Hindia Belanda belum ada sekolah setingkat perguruan tinggi dan bagi mereka yang ingin meneruskan pendidikan harus pergi ke luar Hindia Belanda.Kondisi itu ditambah dengan keuangan keluarganya yang tidak mencukupi untuk membiayai pendidikannya di tingkat perguruan tinggi.

Kemudian Nes mendapatkan pekerjaan pertamanya di perkebunan kopi “Soember Doerene di Malang, Jawa Timur. Suatu waktu ia pernah melihat seorang buruh diperlakukan kasar oleh orang Belanda dan ia berusaha membelanya. Karena tindakannya ini, ia mulai dibenci oleh rekan-rekan kerjanya.Tak jarang ia terlibat konfilik dengan managernya dan membuatnya dipindahkan ke perkebunan tebu
Padjarakan di Kraksaan sebagai laboran. Hukuman itu tidak membuatnya merubah sikapnya hingga ia akhirnya di pecat dari pekerjaannya.

Dari sini kita bisa tahu betapa bencinya Nes terhadap penindasan yang dilakukan oleh bangsa Eropa pada pribumi. Ditambah, kematian mendadak ibunya serta kondisinya sebagai pengangguran membuat Nes memutuskan untuk berpetualang dan menjadi sukarelawan di luar negeri. Saat berada di luar negeri ia juga sempat mengikuti perang Boer (1889) membantu penduduk Afrika untuk melawan Inggris. Karena keterlibatannya ini, Nes kehilangan status kewarganegaraanya sebagai orang Belanda. Namun Perang Boer menginspirasinya untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalu jalur politik. 

2. Perjuangan di bidang jurnalistik hingga politik

Nes kemudian kembali ke Hindia Belanda pada tanggal 1902. Ia menjadi reporter koran Seamrang terkemukan. De Locomotief di bawah pimpinan P. Brooschoft. Ia mulai merintis kemampuannya dalam berorganisasi. Ia melanjutkannya karirnya di bidang jurnalistik dengan bergabung dengan Soerabaiasch Handelsblad. Kemudian ia juga menjadi salah satu staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad.

Pengalamnnya di Bataviaasch Nieuwsblad, membuat Nes mendirikan surat kabar miliknya sendiri yaitu majalah Tijdschrift yang nantinya berganti nama menjadi majalah De Express. Nes paham jika bidang jurnalistik dapat dijadikan sebagai alat perjuangannya melawan pemerintah kolonial Belanda sehingga selama berprofesi sebagai wartawan, ia seringkali membuat tulisan-tulisannya yang pro terhadap kaum Indo dan pribumi. Hal ini membuatnya masuk daftar orang yang ada dalam radar intelijen pemerintah kolonial.

Selain keaktifannya dalam bidang jurnalistik, ia juga menggunakan rumahnya untuk tempat berkumpul dan berdiskusi para perintis gerakan kebangkitan nasional seperti Soetomo dan Cipto Mangunkusumo (pelajar STOVIA). Ia juga memberikan bantuan untuk berdiri organisasi Budi Utomo.

3. Kegagalan perjuangan Danudirja di ranah politik

Bergabungnya Nes, Tjipto dan Soewardi ke dalam Insulinde memperkokoh perjuangan dalam bidang politik. Ketiga tokoh inilah yang kita kenal sebagai tiga serangkai. Pada tahun 1919 Insulinde berubah nama menjadi Nationaal Indische Partij yang diketuai oleh Soewardi. Sebenarnya asas dan tujuan Insulinde memiliki kesamaan dengan Indische Partij, namun pemerintah kolonial Hindia Belanda tidak pernah memberikan peringatan. Indische Partij merupakan organisasi di bidang politik pertama kali pada masa itu.

Masuknya Tiga Serangkai ke dalam Insulinde turut mengubah pandangan pemerintah kolonial Belanda terhadapnya. Sesungguhnya kekhawatiran pemerintah kolonial bukanlah pada asas dan tujuan Insulinde, namun lebih kepada tiga serangkai yang telah masuk kedalam Insulinde. Ketiganya dianggap telah membawa pengaruh ke dalam Insulinde untuk menjalankan politik kontra pemerintah atau anti kolonial.

Pada tahun 1921 akhirnya pemerintah kolonial resmi membubarkan Nationaal Indische Partij yang dianggap membahayakan dan menggangu ketertiban umum. Perjuangan yang berubah haluan setelah Nationaal Indische Partij dibubarkan, Nes meninggalkan Semarang menuju Cibadak. Ia mulai beternak ayam untuk membiayai kehidupannya sendiri.

Di usia yang tidak lagi muda membuat Nes mengubah jalur perjuangannya dari ranah politik menuju pendidikan. Diskriminasi pendidikan oleh pemerintah kolonial kepada kaum pribumi masih terus berjalan. Hal inilah yang membuat Nes tergerak untuk mempropagandakan sebuah pemikiran dan pembelajaran tentang makna nasionalisme untuk tujuan akhir yaitu Hindia Belanda memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan.

Pada tahun 1923 muncul Institut Pengajaran Priangan dan perkumpulan pengajaran rakyat di Bandung. Nes siap mengabadikan jiwa dan raga untuk kemajuan pendidikan di Hindia Belanda. Hal ini terbukti sejak November 1924, lembaga Priangan diubah menjadi yayaan yang bernama School Vereeniging Het Kesatrian Instituut atau sering disingkat Kesatrian Institut.

Jabatan ketua yayasan dipegang oleh Nes dan istrinya bertindak sebagai Sekretaris. Pada mulanya sekolah sekolah Ksatrian hanya berupa sekolah dasar yang sederhana dengan tujuan memberikan kesempatan belajar yang lebih baik bagi rakyat Hindia Belanda.

Pada Januari 1941 Nes ditangkap dan ditahan di Ngawi dengan tuduhan menjadi kaki tangan Jepang. Hal ini disebabkan adanya rencana pengiriman pelajar lulusan sekolah Ksatrian ke Jepang. Tuduhan itu hanya alasan yang dicari-cari oleh pemerintah kolonial untuk menangkapnya.

Penangkapan Nes membuat kepemimpinan Ksatrian Institut terombang-ambing hingga pada bulan Februari 1941, Nes membuat surat kuasa yang isinya memberikan kekuasaan penuh kepada istrinya untuk menjaga kelangsungan hidup sekolah Ksatrian.

4. Kehidupan setelah kemerdekaan Indonesia

tiket.com

Setelah proklamasi kemerdekaan, Nes kembali ke Indonesia dan turut dalam perjuangan kemerdekaan. Ia ditangkap dan dipenjarakan kembali oleh Belanda. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Nes dibebaskan dan bermukim di Kota Bandung hingga di ujung usianya pada tanggal 28 Agustus 1950.


Semua usaha yang dilakukan Ernest Douwes Dekker menunjukkan bahwa darah Belanda di tubuhnya tak berarti ia harus sepakat dengan kolonialisme Belanda. Bahkan, Ernest Douwes Dekker lebih sering mengaku dirinya sebagai orang Jawa karena tumbuh dan hidup di Indonesia. Keberaniannya menentang ketidakadilan rasial dan melawan sikap otoriter Belanda mampu menularkan kecintaan rakyat Indonesia pada negaranya. Ini adalah hal yang seharusnya patut kita tiru. Kita harus banyak belajar kepada Nes mengenai arti dedikasi terhadap negeri.

Pesan dari aku, apapun yang ingin kamu lakukan nantinya, jangan pernah lupakan bahwa bangsa ini membutuhkan kalian. Masih banyak tangan-tangan yang harus kita bantu, masih banyak orang yang tidak memiliki akses yang sama dan kemudahan seperti kita. Aku harap, kalian dapat meraih impian kalian dan dapat berkontribusi bagi bangsa ini. Yuk jangan rebahan dan jadi produktif hoho. Kalau ada yang ingin didiskusikan mengenai tokoh yang satu ini, kalian bisa tuliskan komentar kalian di bawah. Aku bakal seneng banget buat bales komentarnya.. Thank you and… See you.

Penulis: Farah Aulia

giphy.com

Indonesia merdeka bukan tujuan akhir kita. Indonesia merdeka hanya syarat untuk bisa mencapai kebahagiaan dan kemakmuran rakyat.
Bung Hatta


Admin Diskerpus. Perbedaan Antara Douwes Dekker Multatuli dengan Douwes Dekker Tiga Serangkai. 2019.  https://diskerpus.lebakkab.go.id/2019/12/02/perbedaan-antara-douwes-dekker-multatuli-dengan-douwes-dekker-tiga-serangkai/, diakses 16 Februari 2021pukul 09.00 WIB.

Anonim.2020. Ernest Douwes Dekker: Kritik dari Darah Belanda Sendiri. https://voi.id/memori/18959/ernest-douwes-dekker-kritik-dari-darah-belanda-sendiri, diakses 16 Februari 2021 pukul 08.00 WIB.

Matanasi, Petrik. 2018. Ernest Douwes Dekker, Minoritas Indo Yang Memuliakan Pribumi. https://tirto.id/ernest-douwes-dekker-minoritas-indo-yang-memuliakan-pribumi-cUN3, diakses 16 Februari 2021 pukul 10.00 WIB.

Wicaksono, Wildan Bagus. 2021. E.F.E Douwes Dekker. https://www.nimbailmu.com/2021/02/e-f-e-douwes-dekker.html, diakses 15 Februari 2021 pukul 20.00 WIB.

Wikipedia. 2021. Ernest Douwes Deker. https://id.wikipedia.org/wiki/Ernest_Douwes_Dekker, diakses 15 Februari 2021 pukul 20.00 WIB.

Terbaru Lebih lama
Nimba Ilmu
Tempat Belajar Bersama Paling Asyik

Postingan Terkait

Posting Komentar