0XVOkzIOMuVO2ISulfVeSoRy4XR0Z5HcQhXOZ6RK

The Poor - Kemiskinan

Halo sobat nimu.. kali ini, mimin bagiiin cerpen buatan mimin jaman SMP. Ini mimin buat waktu ada pelatihan ngebuat cerpen buat dibukukan. Tapi aku lupa judul bukunya apa wkwk. Semoga membantu teman-teman, maaf kalau tulisan mimin kurang bagus. Setelah kubaca-baca memang agak aneh gitu ceritanya. Walaupun aneh, cerpen ini juga kukumpulin waktu ada tugas cerpen kelas 11. Ceritanya sih terinspirasi dari cerpen klasik gitu.., pengen bahas isu sosial terutama kemiskinan, semacam sindiran gitu sih. Semoga terhibur ya teman-teman.



The Poor - Kemiskinan

Saat itu jam menunjukan pukul tujuh malam. Aku dan ayahku sedang menikmati makan malam di sebuah restoran pinggir jalan yang menyajikan masakan-masakan Italia. Malam ini aku dan ayahku hanya makan spaghetti saus tomat dengan secangkir cappucino. Aku memakannya dengan sangat lahap karena ini adalah makanan terbaik yang aku makan dalam sebulan terakhir. Ayaku tidak punya uang untuk membelikanku makanan yang enak dan sehat sehingga aku tumbuh lebih lambat dari anak seusiaku. Setiap harinya aku hanya makan sup encer buatan ayahku karena ayahku hanyalah seorang penjaga tiket pada sebuah stadium sepak bola dan mengisi teka-teki silang di waktu luang. Sedangkan ibuku, ibuku meninggal 3 bulan yang lalu karena kanker yang menyebabkan ayahku harus berhutang untuk biaya penyembuhannya.

            Ketika aku makan, orang-orang disekelilingku memerhatikanku dan ayahku dengan tatapan aneh seperti sedang menggunjingkanku. Mungkin mereka merasa aneh melihatku makan sepiring berdua dengan ayahku atau mungkin mereka tidak suka melihat pakaianku yang kumal karena belum kucuci. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan mereka, tetapi ayahku justru terlihat sangat santai seakan tidak ada yang memerhatikannya.

“Ayah..., mengapa orang-orang memerhatikan kita? Apakah karena kita makan sepiring berdua?” tanyaku pada ayahku ketika aku telah menyelesaikan makanku.

“Hmmm... mungkin” jawab ayahku.

“Atau karena pakaianku yang terlihat kumal?” lanjutku sambil memerhatikan pakaianku. Pakaian ini adalah pakaian terbagus yang aku punya.

“Kurasa tidak Maggie,” kata ayahku sambil tersenyum.

Setelah itu, ia berdiri dan mengajakku pulang. Kini, kulihat orang-orang yang tadi memerhatikanku sedang sibuk dengan makanannya masing-masing. Makanan yang mereka pesan sangatlah berbeda dari yang kupesan. Mereka memesan banyak sekali makanan yang aku yakini tidak akan habis dimakan oleh mereka. Aku merasa sayang kalau melihat makanan dibuang sia-sia karena tidak habis. Padahal, masih banyak yang tidak bisa makan. Dibandingkan dengan aku, aku sangatlah berbeda dari mereka. Bagiku aku tidak perlu merasa sampai kenyang asalkan aku bisa makan untuk hari ini saja aku sangatlah bersyukur. Apalagi jika aku bisa makan enak seperti malam ini.

“Ayah..., terimakasih untuk hari ini, aku sangat senang karena kau ajak makan seperti tadi,” kataku ketika aku dan ayahku sedang berjalan pulang.

“Ayah juga sangat senang melihat kamu senang Maggie, tetapi ayah tidak bisa mengajak kamu sering-sering kesana ya...!” jelas ayahku.

“Aku tahu ayah,” kataku.

Aku sadar, ayahku pasti telah berusaha keras untuk bisa mengajakku ke restoran tadi. Mengingat hutang ayahku yang sangat besar tidak sebanding dengan penghasilan ayahku serta kebutuhan kita. Walau begitu, ayahku tak pernah mengeluh dan giat bekerja. Ia ingin, aku tidak menjadi seperti dirinya.

“Ayah,  apakah kau menyesal telah menikah dengan ibu?” lanjutku.       

“Tentu saja aku tidak menyesal Maggie. Jika aku tidak menikah dengan ibumu,  aku tentu tidak bisa melihat peri kecilku ini,” jawab ayahku sambil mengelus-elus rambutku.

            Seketika itu pula, aku merasa sudah tidak sedih lagi karena dilahirkan sebagai orang menengah ke bawah karena aku punya seseorang yang sangat menyayangiku yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Akhirnya, aku telah sampai di rumahku. Mungkin ini tidak bisa disebut rumah karena ukuran rumah ini hanya 4 kali 5 m yang hanya terdiri dari kamar tidur,  kamar mandi ,dan  dapur. Ketika aku sampai di depan rumahku, kubuka pintu dan suaranya berderit karena sudah tua. Kemudian memerlihatkan barang-barang yang tak kalah tua dan usang. Selain itu, di rumah ini juga tidak ada TV dan benda elektronik lainnya.

            Aku berjalan masuk dan menuju kamar mandi untuk sikat gigi. Kemudian beranjak tidur di sebuah kasur kecil yang hanya muat untuk satu orang dan kasur inipun sangat keras. Sedangkan ayahku tidur disofa yang penuh dengan tambalan. Serta tidak ada selimut untuk aku dan ayahku pakai.


“TOK...TOK...TOK...!” suara pintu rumahku diketuk pagi-pagi. Akupun terbangun  dari tidurku, selain aku ayahku juga ikut terbangun.  Lalu ayahku berdiri dan membukakan pintunya. Aku mengikutinya dari belakang. Terlihat 2 orang berseragam polisi di depan rumahku.

“Apakah anda Mr.Charlie?” tanya salah seorang polisi itu.

“Iya, ada apa?” jawab ayahku.

“Izinkan aku untuk menggeledah rumah anda. Tadi malam, tetangga anda Mrs.Loisel dibunuh oleh seseorang dan beberapa harta bendanya telah dicuri. Kemungkinan besar motif pelaku adalah uang,” jelas polisi tersebut.

“Hm... tentu saja!” jawab ayahku yang kedengarannya ragu-ragu.

Lalu kedua polisi tersebut masuk ke dalam rumahku. Mereka menggeledah rumahku dan mencari  barang bukti.  Beberapa saat kemudian, salah satu polisi tersebut menemukan sebuah permata sebesar jempol dewasa disamping sofa. Aku tidak tahu kalau ada sebuah permata disitu. Aku tahu polisi itu tidak mungkin berbohong.

“Mr.Charlie coba lihat apa yang kutemukan ini,” kata  polisi tersebut.

“Apa? Bagaimana mungkin ada sebuah permata di rumahku!” kata ayahku. Ia sangat terkejut ketika melihatnya.

“Aku tidak tahu, tetapi sebaiknya anda ikut kami ke kantor polisi atau mengakui kejahatanmu sekarang,” kata polisi itu dengan tegas.

“Aku... aku tidak bersalah.” ucap ayahku terbata-bata.

“Menuurt catatan medis,  Mrs.Loisel meninggal sekitar pukul 7. Jika kamu bisa membuktikan bahwa kamu tidak bersalah maka aku tidak akan membawamu ke kantor polisi,” jelas polisi itu.

“Waktu itu, aku dan Maggie berada di restoran Italia di pinggir jalan yang tidak terlalu jauh dari sini. Benarkan Maggie?,” tanya ayahku padaku.

“Iya” jawabku.

“Kesaksian anggota keluarga tidak berguna Mr.Charlie!” kata polisi tersebut.

“Bukankah kamu bisa mengkonfirmasikan alibiku ke restoran Italia tersebut,” ucap ayahku.

“Tentu saja bisa, kalau begitu tunggu sebentar,” kata polisi itu.

            Polisi itu kemudian menelpon seseorang dan memerintahkan orang tersebut untuk pergi ke restoran Italia dan mengkonfirmasikan alibi ayahku.

Saat ini aku sangat cemas, jantungku terus saja berdetak dengan sangat cepat dan keringatpun bercucuran di dahiku. Aku cemas jika tidak ada yang melihat ayahku di restoran Italia sehingga tidak akan ada yang bisa mengkonfirmasikan alibi ayahku. Selain cemas, aku juga bingung mengapa bisa ada berlian Mrs.Loisel di rumahku. Apakah orang yang membunuh Mrs.Loisel dan mencuri hartanya sengaja menaruh berlian itu di rumahku sehingga ayahku yang akan dicurigai karena ayahku miskin. Aku benci dengan kemiskinan, andaikata ayahku kaya tentu ayahku tidak akan dicurigai dan tentunya tidak akan ada orang yang berani memfitnah ayahku.

Setelah 15 menit menunggu, datang seorang polisi  lain ke rumahku. Kini, detak jantungku bertambah  semakin cepat dan hatiku was-was. Setelah 15 menit pikiranku berkeliaran kemana-mana, kini pikiranku harus tertuju pada polisi tersebut.

“Bagaimana?” tanya polisi yang tadi memerintahkannya.

“Setelah aku tanya kepada pemilik restoran dan beberapa pengunjung yang datang pada jam 7. Mereka tidak melihat seorang laki-laki bersama anaknya yang makan sepiring berdua dan ciri-ciri yang sudah kau sebutkan tadi,” kata polisi yang tadi datang.

“Apa? Bagaimana mungkin? Ayahku tadi malam makan bersamaku di sana,” teriakku kepada polisi-polisi itu.

“Mr.Charlie kau harus ikut kami ke kantor polisi karena kau telah kami tetapkan sebagai tersangka atas kasus pembunuhan dan perampokan Mrs.Loisel,” kata salah satu polisi yang seakan tidak mendengarkan teriakanku tadi.

            Mendengar hal itu ayahku tidak membantah ataupun melawan. Aku tahu dan sangat tahu bahwa ayahku tidak bersalah. Akan tetapi, aku tidak bisa membuktikannya. Aku tidak bisa membuktikan bahwa ayahku tidak bersalah.

            Beberapa bulan setelah ayahku ditangkap, pengadilan memutuskan ayahku dihukum 5 tahun penjara.  Namun baru beberapa minggu dipenjara ayahku meninggal, ia meninggal karena dibunuh oleh teman satu selnya. Aku tidak tahu harus menyalahkan siapa akan kematiannya. Ayahku meninggal menyusul ibuku. Kini,  tinggal ku sendiri dengan hutang-hutang ayahku yang belum dibayar.  Pemerintah hanya diam dan berita tentang kematian ayahku dimuat dalam koran. Hari-hariku dipenuhi oleh cucuran keringat dan deraian air mata. Itu semua adalah salah kemiskinan. Kemiskinanlah yang membuat ibuku dan ayahku meninggal dan itu pula yang membuat diriku menderita.

            Menderita oleh hutang-hutang ayahku yang menyebabkan aku harus hidup dengan bekerja sebagai pelayan di restoran Italia tempat terakhir kali aku bersenang senang dengan ayahku. Ketika aku sedang bekerja melayani pembeli. Aku mendengar pembeli tersebut membicarakan tentang kematian ayahku. Mereka tertawa dan mengatakan bahwa ayahku memang pantas mati karena ia adalah sampah masyarakat yang memang pantas untuk mati. Aku hanya tertunduk mendengarnya, aku tahu orang miskin memang tak seperti orang kaya yang bisa melakukan segalanya.

Kini aku sudah tak punya apa apa lagi untuk tidak sedih dalam kemiskinan. Cinta, kasih sayang, dan harapan hidup, semuanya telah hilang dari diriku hanya karena kemiskinan ini. Aku tahu, sungguh tahu bahwa ayahku tidak bersalah, tetapi tidak ada orang yang memercayai ucapan orang miskin sepertiku.Mereka menganggap orang miskin sebagai seorang pembohong yang selalu mengganggu kehidupan orang kaya.

Orang miskin hanya ditakdirkan untuk menderita. Aku sudah tidak tahan dengan semua ini dan semakin lama tubuku kurus karena jarang makan. Pada akhirnya, aku menyusul ayahku dan ibuku  karena jarang makan. Aku meninggal sebagai orang miskin tanpa bisa mewujudkan impian ayahku untuk tidak menjadi seperti dirinya dan aku meninggal dengan meninggalkan hutang ayahku yang tidak akan pernah bisa kubayar lagi.

Nimba Ilmu
Tempat Belajar Bersama Paling Asyik

Postingan Terkait

1 komentar

Berkomentarlah dengan sopan dan santun ya :D Jika ingin mendapatkan notifikasi bahwa komentarmu telah dibalas, silahkan tekan kotak "Beri tahu saya".