0XVOkzIOMuVO2ISulfVeSoRy4XR0Z5HcQhXOZ6RK

Kue dan Sepotong Es Krim

Halo sobat nimu.. kali ini, mimin bagiiin cerpen buatan mimin jaman SMP. Ini mimin buat waktu ada tugas ngebuat cerpen di buku paket… Semoga membantu teman-teman, maaf kalau tulisan mimin jelek. Masih belajar hehe. Cerpen ini nyeritain begitu besarnya ksih sayang kakak ke adiknya dan kerja keras untuk memberikan hadiah terbaik bagi adiknya. Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerpen ini ya… XOXO


Kue dan Sepotong Es Krim

Hidup di bawah kolong jembatan dengan makan seadanya. Aku harus menghidupi adikku yang masih kecil dan manja. Kedua orang tuaku telah meninggalkanku sendirian dengan adikku. Apalagi yang bisa kuharapkan selain senyuman adikku. Bisa menyekolahkannya saja aku sudah bersyukur sekali. Aku rela tidak melanjutkan sekolahku dan memilih untuk menyusuri jalanan mencari sesuap nasi untuk kita berdua.

Di usiaku yang ke 15, aku sudah dituntut untuk terus bekerja. Hidup mengajariku dengan sangat keras. Aku bekerja sebagai pemulung di kota yang besar ini, Surabaya. Untuk saat ini, aku memang tidak sekolah, tetapi bukan berarti aku juga putus dalam belajar. Terkadang, ketika memulung aku menemukan beberapa buku bekas yang sudah dibuang. Aku membawanya pulang dan membacanya. Dari situlah aku mendapatkan ilmu. Aku selalu haus akan ilmu.

Pagi ini ketika aku mau mengantarkan adikku sekolah. Adikku terdiam sambil memerhatikan sepatunya. Aku tahu, itu artinya ada yang akan ia sampaikan.

“Ada apa dik?” tanyaku.

“Kak..kakak… minggu depan Alfa ulang tahun!” kata Alfa, adikku.

“Iya…kakak inget Alfa!” kataku sambil mengelus kepala Alfa, adikku.

“Alfa pengen dibeliin hadiah kak… “ rengek adikku.

“Hadiah apa Alfa?” tanyaku.

“Kue dan es krim,” katanya.

“Iya… nanti kakak usahakan. Sekarang kamu berangkat sekolah dulu ya…” jawabku.

“Baik kak… aku sayang kakak,” kata adikku sambil tersenyum dan mencium tanganku.

            Jujur, aku bingung. Bagaimana mungkin aku bisa membelikan adikku kue dan sepotong es krim dihari ulang tahunnya? Uang untuk makan sehari-hari saja kadang kurang.

Setelah adikku berangkat sekolah, aku juga berangkat mengais rezeki di antara tumpukan sampah. Hari ini aku bertekad untuk mengumpulkan sampah lebih banyak lagi. Ketika banyak orang menganggap bahwa sampah itu tidak berguna dan mengganggu. Justru karena sampahlah aku bisa hidup. Sampah-sampah inilah pundi-pundi ekonomi yang menghidupiku dan adikku.

Matahari bersinar terik di langit Surabaya, sudah siang hari dan sampah yang kudapatkan tidak terlalu banyak. Maklumlah, aku juga harus berbagi rezeki dengan orang lain. Ku susuri jalan besar ini sendirian, berharap Tuhan membagikan rezeki lebih hari ini.

Menjelang sore, aku pergi ke pengepul sampah. Kulihat tumpukan rongsokan yang disana sini. Aku mengenal pemiliknya, dia adalah teman orang tuaku. Biasanya aku memanggilnya mamang. Dia adalah orang yang selalu menbantuku ketika aku kesusahan. Tubuhnya gendut dan kumis tumbuh subur di wajahnya.

“Mang… ini berapa?” tanyaku menunjuk sampah rongsokan yang aku bawa.

“Bentar ya vit, ku timbang terlebih dahulu,” kata mamang sambil menimbang rongsokan yang aku bawa. Perutnya yag besar, bergoyang-goyang ketika ia berjalan.

“Ini vit uangnya...,” sambil memberikan uang kepadaku.

“Makasih mang…” ucapku sambil menghitung uang, Rp. 21.500,00. “Saya pamit dulu ya mang…”

Sambil berjalan pulang, aku mampir untuk membeli nasi bungkus. Tak jauh dari warung tempatku membeli nasi bungkus, ada sebuah toko roti besar. Kue-kue indah terpampang di etalase toko. Ada satu roti yang sangat indah di sana, berhiasan Unicorn di atasnya dan diselimuti coklat. Tak jauh dari roti itu, ada lemari es yang berisi es krim beraneka rasa. Aku hanya berdiri di depan toko sambil membayangkan adikku tersenyum melihatku membawa pulang roti dan sepotong es krim untuknya.

            “Nak.. kelihatannya kamu sangat tertarik dengan kue itu. Apakah kamu mau membelinya?” Tanya seorang pelayan toko paruh baya dengan ramah yang tiba-tiba keluar. Mungkin dia memerhatikanku dari dalam toko.

            “Hm… sebenarnya iya, adikku minggu depan akan berulang tahun. Aku ingin membelikannya itu,” kataku.

            “Aku bisa menghiasnya dengan cantik kalau kamu membelinya,” kata pelayan toko itu.

            “Maaf, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?” tanyaku malu-malu. “Kira-kira berapa harga kue dan sepotong es krim?”

            “Untuk kue itu, harganya sekitar Rp.60.000, di tambah dengan es krimnya Rp.10.000 satu potong. Jadi Rp.70.000. Apakah kamu mau memesannya untuk minggu depan?”

            “Tidak…, aku tidak punya uang sebanyak itu. Tetapi bisakah kamu menjaganya untukku? Aku akan kembali minggu depan kalau aku memiliki uang”

            “Mohon maaf…, aku tidak bisa melakukannya. Tetapi kembalilah minggu depan. Siapa tahu kue itu masih ada” ucap pelayan itu.

            “Terima kasih… aku harus kembali. Adikku pasti menungguku.” Kataku sambil tersenyum.

            Perjalan menuju rumah terasa sangat panjang bagiku, banyak yang kupikirkan. Apakah aku harus mengatakan kepada adikku bahwa aku tidak sanggup membelikannya? Tetapi apakah aku sanggup mengatakannya? Ini adalah ulang tahunnya, dan semua orang harus bahagia pada hari ulang tahunnya. Tidak ada yang salah dengan sebuah permintaan. Aku ingin membuatnya bahagia.

            Hari demi hari berlalu, aku bekerja sangat keras mengumpulkan uang. Hari ini adikku berulang tahun. Uang yang ku kumpulkan sudah cukup untuk membelikan adikku kue dan spotong eskrim. Aku sudah berusaha untuk menyisihkan penghasilanku yang tidak seberapa. Aku berharap adikku akan tersenyum melihat kue dan es krim yang kubawa pulang hasil jerih payahku satu minggu.

            Tik… tik… tik…

            Gerimis mengguyur kota Surabaya sore itu. Akhirnya aku kembali lagi kesini, toko kue. Dengan ragu, aku melangkah masuk ke dalam toko. Kulihat pelayan paruh baya tersebut sedang menata kue di etalase.

“Selamat sore. Saya mau membeli kue, ” sapaku ke pelayan toko.

“Aa.. selamat sore nak,” jawab pelayan tersebut yang nampaknya sedikit terkejut. “Kamu mau beli kue yang minggu lalu?”

“Iya..., apakah kuenya masih ada?” tanyaku ragu.

“Sebentar.. saya ambilkan.” Pelayan tersebut kemudia berjalan mengambil kue dengan hiasan unicorn di atasnya. “Mau saya hias?”

“Tentu saja,aku juga mau membeli sepotong es krim.”

“Rasa apa?” Tanya pelayan paruh baya tersebut setelah selesai menghias kue.

“Tolong.. yang rasa coklat satu! Ini uangnya” kataku sambil memberikan uang recehan berjumlah Rp. 60.000,00.

“Terima kasih…,” ucap pelayan tersebut sambil memberikan kue dan sepotong es krim.

            Setelah menerimanya, aku berjalan keluar dari toko. Degan perasaan yang tidak bisa dijelaskan, ak pulang ke rumah. Aku tidak sabar melihat wajah adikku yang kusayang.

“Adik…. Selamat ulang tahun!” ucapku ketika sampai di depan rumah.

“Wa… kakak! Apakah itu kue dan es krim untukku?” Tanya adikku bahagia. Aku senang melihat kebahagiannya itu.

“Tentu saja,” jawabku.

“Terima kasih kakak! Aku sayang kakak! Kakak pasti sudah bekerja keras untuk itu semua,” kata adikku sambil memelukku.

“Tidak masalah.. demi melihatmu bahagia aku rela melakukan ini,” balasku. “Ayo kita makan kuenya sama-sama!”

            Kue dan sepotong es krim, sebuah permintaan sederhana dari adikku di hari ulang tahunnya. Sederhana untuk banyak orang, tetapi tidak untukku. Aku harus bekerja keras untuk itu.

Nimba Ilmu
Tempat Belajar Bersama Paling Asyik

Postingan Terkait

1 komentar

Berkomentarlah dengan sopan dan santun ya :D Jika ingin mendapatkan notifikasi bahwa komentarmu telah dibalas, silahkan tekan kotak "Beri tahu saya".