0XVOkzIOMuVO2ISulfVeSoRy4XR0Z5HcQhXOZ6RK

Menyusun Teks Laporan Hasil Observasi

 

Salam Bahasa Indonesia!

Hai sobat Nimu! Pada kesempatan kali ini, kita akan mempelajari bab pertama di kelas $10$, yaitu “Menyusun Laporan Hasil Observasi (LHO)”. Sebelumya, pernah tidak kalian diminta bapak ibu guru untuk melakukan pengamatan atau observasi di sekolah? Nah, setelah kalian melakukan kegiatan observasi, kalian harus menuliskan teks laporan hasil observasi tersebut. Lalu, tahu tidak apa yang dimaksud dengan teks laporan hasil observasi? Oke, mari kita pelajari bersama! Wuuuuuzh…..


Pengertian

Pengertian
Teks laporan hasil observasi (LHO) adalah sebuah teks yang berisi penjabaran umum atau laporan mengenai hasil pengamatan (observasi) yang telah dilakukan. 

Teks ini, berisi tentang penggambaran ciri, bentuk, atau sifat umum seperti benda, tumbuhan, manusia, hewan, atau peristiwa yang terjadi di alam semesta kita. Teks laporan hasil observasi ini, juga disebut dengan teks klasifikasi karena memuat klasifikasi mengenai jenis-jenis sesuatu berdasarkan kriteria tertentu. Dalam penulisannya, teks LHO harus bersifat faktual atau berdasarkan fakta yang ada.


Tujuan Penulisan LHO

Tentunya, setiap kegiatan yang kita lakukan pasti memiliki tujuan. Begitu juga dengan teks LHO ini teman-teman! Inilah beberapa tujuan dari pembuatan teks LHO yang perlu kita ketahui.  

  • Untuk menemukan cara atau tekhnik terbaru.
  • Untuk mengambil keputusan yang lebih efektif.
  • Untuk mengatasi suatu permasalahan atau persoalan tertentu.
  • Untuk melakukan pengawasan atau perbaikan.
  • Untuk mengetahui perkembangan atau pengawasan.


Fungsi Teks LHO

Selanjutnya, teks LHO memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut.

  • Sebagai sumber informasi yang akurat dan terpercaya karena disusun berdasarkan fakta dan data.
  • Sebagai laporan pertanggung jawaban dari sebuah tugas atau kegiatan pengamatan (observasi).
  • Saran untuk mendokumentasikan hasil kegiatan observasi.
  • Menjelaskan dasar penyusunan kebijaksanaan, pemecahan suatu permasalahan dalam pengamatan, serta sebagai sebuah keputusan.

Sifat-Sifat Teks LHO

Teks LHO memiliki $3$ sifat, yaitu informatif, komunikatif, dan objektif. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut, yuk kita baca penjelasan berikut ini!

  • Bersifat informatif, yaitu teks tersebut memberikan informasi yang berguna mengenai objek yang telah diamati kepada pembaca.
  • Bersifat komunikatif, yaitu teks tersebut menggunakan bahasa yang seolah-olah membuat kita sedang berkomunikasi dengan teks tersebut. Tujuannya agar isi laporan dalam teks mudah dimengerti.
  • Bersifat objektif, yaitu teks laporan tersebut harus faktual dan berdasar pada informasi yang sah tentang apa yang benar-benar terjadi tanpa ada opini dari penulis.


Ciri-Ciri Teks LHO

Setiap teks pasti memiliki ciri-cirinya tersendiri, sehingga dapat dibedakan dengan teks yang lain. Karena pada umumnya, teks laporan hasil observasi mempunyai bentuk yang hampir sama dengan teks deskripsi, tetapi sebenarnya sifat kedua teks tersebut berbeda. Teks laporan hasil observasi menggambarkan sesuatu secara umum dan sesuai fakta apa adanya tanpa ada opini/pendapat penulis. Sedangkan teks deskripsi menggambarkan secara khusus dan menggambarkan sesuai dengan sudut pandang penulis. Well, berikut ini merupakan ciri-ciri dari teks LHO. Baca dengan seksama yaa!

  • Ditulis secara lengkap dan sempurna.
  • Bersifat objektif, global, dan universal.
  • Objek yang akan dibicarakan atau dibahas adalah objek tunggal.
  • Ditulis berdasarkan fakta sesuai pengamatan yang telah dilakukan
  • Informasi teks merupakan hasil penelitian terkini yang sudah terbukti kebenarannya.
  • Tidak mengandung prasangka/dugaan yang menyimpang atau tidak tepat.
  • Saling berkaitan dengan hubungan berjenjang antara kelas dan subkelas yang terdapat di dalamnya.
  • Menitikberatkan pada pengelompokkan segala sesuatu ke dalam jenis-jenis dengan ciri atau keadaannya secara umum.
  • Disajikan secara menarik, baik kata, bahasa, isinya berbobot maupun susunannya logis.
  • Teks laporan hasil observasi menggambarkan sesuatu secara umum dan sesuai fakta, tanpa adanya opini penulis.

Struktur Teks LHO

Dalam menyusun teks LHO perlu memerhatikan struktur-strukturnya. Terdapat $3$ struktur utama yang membangun teks LHO sehingga menjadi satu kesatuan, yaitu:

1. Pernyataan Umum (Klarifikasi)

Struktur teks laporan hasil observasi yang pertama adalah pernyataan umum, atau disebut juga klasifikasi. Bagian ini berada pada awal laporan hasil observasi dan menjelaskan informasi umum mengenai objek yang telah diamati. Selain itu, tak jarang juga dibahas mengenai penggolongan atau klasifikasi terhadap objek antara persamaan dan/atau perbedaan, sehingga dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya seperti nama latin, kelas, asal usul, dan informasi tambahan lainnya mengenai hal yang dilaporkan. Agar sobat Nimu lebih paham, perhatikan teks dibawah ini.

D’topeng adalah salah satu tempat wisata yang terletak di Kota Batu, Jawa Timur. Keberadaan D’topeng tidak dapat dipisahkan dengan Museum Angkut karena kedua tempat ini berada di satu tempat yang sama. Tempat wisata ini seringkali disebut pula sebagai museum topeng karena memang berisi topeng dengan berbagai model dan bentuk. Namun, D’topeng tidak hanya berisi topeng, tetapi juga berisi pameran benda-benda berupa barang tradisional dan barang antik. Topeng, barang tradisional, dan barang antik dalam museum ini dapat dikelompokkan menjadi lima jenis berdasarkan bahan pembuatannya, yaitu berbahan kayu, batu, logam, kain, dan keramik.

2. Deskripsi Bagian

Bagian ini ditulis setelah bagian pernyataan umum (klasifikasi). Deskripsi bagian menjelaskan tentang bahasan atau rincian tentang objek yang sedang diamati secara lengkap dan detail. Informasi pada bagian ini dijelaskan secara detail dan runtut dari awal sampai akhir. Bisa dibilang bagian ini merupakan inti dari teks LHO, karena memuat semua informasi dan data berdasarkan fakta hasil pengamatan yang telah dilakukan. Perhatikan contoh teks berikut ini ya, teman-teman!

Benda paling diminati pengunjung untuk diamati dan paling mendominasi tempat ini adalah topeng. Ada beragam jenis topeng di museum ini. Topeng-topeng tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian berdasarkan bahan dasarnya, yaitu yang berbahan dasar kayu dan batu. Topeng berbahan kayu sebagian besar berasal dari daerah Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jakarta, dan Jawa Barat. Sementara itu, topeng yang berbahan batu berasal dari daerah sekitar Sulawesi dan Maluku.

Selain topeng, barang-barang tradisional juga dipamerkan di D’topeng. Barang-barang tradisional yang mengisi etalase-etalase museum ini adalah senjata tradisional, perhiasan wanita zaman dahulu yang berbahan dasar logam, batik-batik motif lama, dan hiasan rumah kuno. Berdasarkan bahan dasarnya, barang-barang tersebut juga dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu berbahan dasar kayu seperti hiasan rumah berupa kepala kerbau asal Toraja, berbahan dasar batu seperti alat penusuk jeruk asal Batak, berbahan dasar logam seperti pisau sunat dan perhiasan logam asal Sumba, dan yang berbahan dasar kain seperti batik berbagai motif asal Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Benda terakhir yang mengisi museum ini adalah barang kuno yang sampai saat ini masih dianggap bernilai seni tinggi atau biasa kita sebut barang antik. Barang-barang antik seperti guci tua, kursi antik, bantal arwah, mata uang zaman kerajaan-kerajaan, dan benda-benda lain dapat dijumpai di dalam museum D’topeng. Barang-barang tersebut dapat pula digolongkan menjadi dua jenis berdasarkan bahan pembuatannya,  yaitu keramik dan logam. Barang antik berbahan dasar keramik di museum ini adalah guci-guci tua peninggalan salah satu dinasti di China dan bantal yang digunakan untuk bangsawan Dinasti Yuan (China) yang sudah meninggal. Sementara itu, barang antik yang berbahan dasar logam adalah jinggaran coin (Kerajaan Gowa), mata uang kerajaan majapatih, koin VOC, dan kursi antik asal Jawa Tengah.

3. Deskripsi Manfaat

Deskripsi manfaat berfungsi sebagai penutup. Pada bagian ini, penulis menutup tulisannya dengan menjelaskan kegunaan, kelebihan, dan manfaat dari obyek yang diteliti. Pahami contoh teks di bawah ini!

Selain untuk dipamerkan, benda-benda di D’topeng ini juga dimanfaatkan sebagai media pelestarian budaya. Selanjutnya, D’topeng berfungsi pula sebagai museum, yaitu sebagai konservasi benda-benda langka agar terhindar dari perdagangan illegal.

Unsur Kebahasaan Teks LHO

Menggunakan Kata Serta Frasa Verba dan Nomina

Jenis kata dan kelompok kata (frasa) yang dominan digunakan dalam sebuah teks laporan hasil observasi adalah verba (kata kerja) dan nomina (kata benda). Untuk memahami hal tersebut, kalian harus mengetahui perbedaan antara kata dan frasa. Kata berbentuk morfem atau morfem bebas, yaitu satuan bahasa terkecil (dapat memiliki arti maupun tidak) yang dapat berdiri sendiri.

Sekarang, kalian perhatikan contoh kata di bawah ini yaa…

  • Paman
  • Membaca
  • Buku
  • Kantor

Kalau kalian perhatikan, setiap tulisan di atas merupakan suatu satuan bahasa terkecil yang dapat berdiri sendiri. Jadi disebut dengan istilah KATA. Lalu, kalau frasa gimana? Frasa merupakan gabungan beberapa unsur (terdiri dari dua kata atau lebih) yang memiliki makna namun tidak melebihi batas fungsi. Artinya, sekalipun terdiri atas beberapa unsur namun hanya memiliki satu fungsi dalam sebuah kalimat. Selain itu, frasa merupakan kelompok kata yang nonpredikatif, atau tidak menduduki subjek dan predikat. Biar lebih paham perhatikan contoh frasa di bawah ini deh...

  • Lima orang pemuda
  • Sedang menata
  • Kumpulan buku cerita

Nah, coba kalian perhatikan contoh frasa di atas, setiap gabungan kata yang terbentuk memiliki makna. Tentunya, setiap frasa di atas juga memiliki fungsi. Misalnya nih, frasa “lima orang pemuda” berfungsi sebagai subjek. Kata “sedang menata” memiliki fungsi sebagai predikat. Kata “kumpulan buku cerita” memiliki fungsi sebagai objek. Nah, apabila ketiga frasa itu digabungkan, maka akan membentuk sebuah kalimat. Sudah jelas ya… Jadi dapat disimpulkan bahwa frasa memiliki ciri-ciri tertentu, yaitu:

  1. Tersusun atas dua kata atau lebih,
  2. Nonpredikatif, artinya setiap satuan kata dalam frasa tidak menduduki subjek dan predikat. Contohnya, setiap kata dalam frasa "lima orang pemuda" tidak menduduki subjek maupun predikat,
  3. Hanya memiliki satu fungsi dalam sebuah kalimat (frasa tersebut bisa berfungsi sebagai subjek, predikat, objek, atau keterangan).

1. Menggunakan Kata Yang Berimbuhan (Afiksasi)

Kata yang mendapat proses pengimbuhan dapat berubah jenis. Misalnya, kata berjenis verba dapat berubah menjadi nomina jika mendapat imbuhan. Contoh, kata “minum” (verba) mendapat imbuhan “–an” menjadi “minuman” (nomina).

2. Menggunakan Kata-Kata Verba Relasional

Misalnya ialah, adalah, yaitu, digolongkan, terdiri atas, disebut, termasuk, merupakan, dan sebagainya. Kata verba relasional digunakan untuk menyatakan devinisi atau pengertian pada istilah tertentu atau istilah teknik pada bidang tertentu. Misalnya “Pensil merupakan salah satu alat tulis”.

3. Menggunakan Verba Aktif 

Menggunakan verba aktif alam untuk menjelaskan perilaku, seperti : membuat, hidup, makan, tidur, dan sebagainya.

4. Menggunakan Kata Hubung

Menggunakan kata penghubung yang menyatakan tambahan (dan, serta), perbedaan (berbeda dengan), persamaan (sebagaimana, seperti halnya), pertentangan (tetapi, sedangkan, namun), pilihan (atau).

5. Menggunakan Kata Teknis

Menggunakan kata keilmuwan atau teknis, seperti : herbivora, fosil, adaptasi, leukimia, dan lain sebagainya. 

6. Menggunakan Kalimat Utama Yang Menyusun Informasi Utama

Menggunakan paragraf dengan kalimat utama untuk menyusun informasi utama, diikuti rincian aspek yang hendak dilaporkan dalam beberapa paragraf.


Jenis-Jenis Teks LHO

Dalam teks laporan hasil observasi, ada beberapa macam jenisnya tergantung pada objek yang diamati, tujuan pembuatan, dan lain-lain.

Misalnya, berdasarkan objek yang diamati yaitu

  1. Observasi kondisi lingkungan dan ekosistem, seperti kebakaran hutan, tanah longsor, dan lain-lain,
  2. Observasi kondisi sosial, ekonomi, politik, seperti UMKM, pemilihan presiden, dan lain-lain,
  3. Observasi keadaan yang sedang terjadi, seperti memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, dan lain-lain.
  4. Dan lain-lain.
Berdasarkan tujuan pembuatan:

  1.  Teks observasi eksposisi,
  2. Teks obsesrvasi identifikasi,
  3. Teks observasi klasifikasi,
  4. Dan lain-lain.

Kemudian, jenis hasil teks observasi terbagi atas 2 yaitu:

  1. Laporan Obsevasi Formal. Teks hasil laporan observasi yang formal memiliki kaidah format dalam menyusun laporan seperti memiliki kop, bahasa baku dan struktur yang lebih rinci. Pada umumnya teks ini digunakan pada acara resmi seperti laporan berita atau hasil eksperimen dan lainnya.

  2. Laporan Observasi Non Formal. Sedangkan teks hasil laporan observasi yang non formal ditulis dengan struktur yang lebih sederhana dan ditujukan agar memberi informasi dan menarik minat baca orang lain.


Langkah-Langkah Membuat Teks LHO

Ada beberapa langkah-langkah dalam membuat teks LHO, yaitu:
  1. Menentukan tema dari kegiatan observasi yang akan dilakukan.
  2. Menentukan tujuan dari observasi tersebut.
  3. Melakukan observasi.
  4. Menyusun kriteria atau aspek dan membatasi aspek yang harus dilaporkan. Hal ini bertujuan agar data yang dilaporkan tidak keluar dari tujuan yang sudah ditentukan. Jika semua aspek dilaporkan akan mengakibatkan pelebaran pembahasan.
  5. Mendiskripsikan unsur-unsur yang dijelaskan sesuai dengan aspeknya.
  6. Gunakan gambar atau data tambahan. Gambar atau data tambahan harus berdasarkan fakta-fakta ilmiah dari penelitian yang dilakukan sebelumnya. Hal ini juga dapat memperkuat data yang kita jelaskan.
  7. Membuat kesimpulan.

Bagaimana sobat Nimu? Sudah paham bukan? Setelah ini akan ada contoh dari teks LHO dan beberapa latihan soal yang pastinya akan sangat membantumu mengasah kemampuan di bidang bahasa Indonesia. Tetap semangat, dan jangan pernah berhenti belajar. 😃

Salam Bahasa Indonesia!


Nimba Ilmu
Tempat Belajar Bersama Paling Asyik

Postingan Terkait

Posting Komentar